bisnis

Mengenal Tentang Iklim Bisnis di Indonesia

Apa Itu Iklim Bisnis?

Kalau dipikir-pikir, ternyata bukan cuma alam yang mempunyai iklim, tapi bisnis juga mempunyai iklim. Menurut KBBI, iklim mempunyai 2 arti. Arti pertama merujuk pada keadaan cuaca di suatu daerah dalam jangka waktu tertentu. Arti yang ke-2 adalah keadaan atau suasana.

Untuk mengetahui apa itu iklim bisnis, tentu makna kedua-lah yang paling sesuai diambil. Jadi, singkatnya, iklim bisnis adalah keadaan atau suasana bisnis di suatu negara atau daerah. Iklim bisnis berkaaitan dengan kebijakan/regulasi bisnis yang berlaku di suatu negara dan keadaan ekonomi negara tersebut. Iklim bisnis disebut baik jika kebijakan yang berlaku di suatu negara memudahkan masyarakat untuk berbisnis dan berinvestasi. Masyarakatnya bisa dari dalam negeri maupun luar negeri.

Begitu juga dengan keadaan ekonomi. Jika keadaan ekonomi suatu negara sedang tidak stabil, maka iklim bisnisnya sedang tidak baik. Penyebabnya bisa dari negara itu sendiri maupun pengaruh ekonomi global.

Salah satu penyebab terjadinya ketidakstabilan ekonomi adalah inflasi (kenaikan harga barang pokok). Iklim bisnis yang tidak sehat bisa membawa dampak kegiatan bisnis menjadi tidak lancar. Perusahaan-perusahaan akan mengurangi atau menghentikan kegiatan bisnisnya. Bahkan, perihal itu juga bisa membawa dampak terjadinya PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) untuk karyawan di perusahaan tersebut.

Contohnya adalah krisis moneter yang berlangsung di negara-negara di Asia pada tahun 1997. Indonesia juga terkena pengaruh krisis tersebut. Kemudian, pada tahun 2008, krisis ekonomi dunia yang berlangsung di Amerika Serikat juga menyebar hingga ke Indonesia. Namun, saat itu, krisis yang berlangsung tidak separah tahun 1997. Itulah penjelasan singkat mengenai iklim bisnis. Intinya, iklim bisnis itu terjalin erat dengan kebijakan bisnis dan keadaan ekonomi (baik nasional maupun global).

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Iklim Bisnis

 

Berbicara mengenai iklim bisnis, ada 3 faktor yang mempengaruhinya yakni investasi, pemerintah, dan tabungan. Berikut penjelasannya:

1. Investasi

Apa itu investasi? Menurut KBBI, investasi adalah penanaman uang atau modal dalam suatu perusahaan atau proyek untuk tujuan meraih keuntungan. Ya, betul. Dalam bisnis, investasi adalah penanaman modal di sektor bisnis tertentu untuk membangun sarana-sarana produktif seperti infrastruktur, sumber daya manusia, fasilitas/layanan digital, dan lain-lain.

Dengan adanya investasi, kegiatan bisnis pun dapat berlangsung dengan lancar sebab telah tidak terkendala masalah dana. Investasi bisa dimisalkan sebagai bensin dari sebuah kendaraan. Kendaraan itu bisa berjalan sangat jauh jika bensin yang dimilikinya mencukupi.

Dengan kata lain, investasi adalah suplai atau input untuk suatu bisnis untuk menghasilkan output berupa produk atau jasa yang bisa digunakan oleh publik. Dalam skala yang lebih besar, investasi dapat mendongkrak pembangunan nasional sebab sektor-sektor bisnis di suatu negara saling berhubungan. Output yang dihasilkan oleh satu sektor bisa digunakan sebagai input (suplai) untuk sektor yang lain.

Jadi, investasi sangat berpengaruh pada keadaan ekonomi suatu negara. Investasi-lah yang menentukan pergerakan sektor-sektor bisnis di negara tersebut. Contoh investasi di Indonesia adalah pembangunan jalan tol. Jalan tol ini tentu akan mempengaruhi kegiatan bisnis khususnya yang bergerak di sektor logistik.

 

2. Pemerintah

Faktor ke-2 yang mempengaruhi iklim bisnis adalah pemerintah. Di sini, pemerintah berperan sebagai pembuat kebijakan atau regulasi yang diberlakukan di negaranya. Kebijakan yang paling berpengaruh pada dunia bisnis adalah kebijakan fiskal dan kebijakan moneter.

Kebijakan fiskal mengatur tentang perpajakan. Kebijakan moneter mengatur tentang peredaran uang di masyarakat, yang salah satunya terjalin dengan inflasi.

Selain 2 kebijakan di atas, masih ada kebijakan lainnya seperti perizinan pendirian usaha, apakah bisnis itu legal atau tidak. Jadi, ketetapan atau undang-undang yang dibuat oleh pemerintah juga mempengaruhi keadaan iklim bisnis di Indonesia.

 

3. Tabungan

Kepemilikan tabungan, baik oleh masyarakat maupun pemerintah, juga berpengaruh pada iklim bisnis. Tabungan yang dimiliki oleh masyarakat bisa digunakan untuk berinvestasi. Hal ini terjalin dengan yang namanya inklusi keuangan.

Inklusi keuangan adalah suatu keadaan di mana masyarakat bisa terhubung fasilitas/layanan keuangan dengan nyaman dan terjangkau. Fasilitas keuangan yang umum dikenal oleh masyarakat adalah bank.

Tapi, fasilitas keuangan yang kembali booming saat ini adalah fintech (financial technology). Contoh fintech yang mungkin kamu kenal adalah Go-Pay, OVO, LinkAja yang terjalin dengan keseharian. Kemudian, ada juga IPOTGO, Tanamduit yang bergerak di bidang investasi reksa dana. Ada juga KoinWorks, DanaIn yang bergerak di bidang investasi P2P Lending.

Dikutip dari Katadata.co.id, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa inklusi keuangan di Indonesia berkembang dengan pesat. Pada tahun 2019, tingkat inklusi keuangan di Indonesia dapat capai 65%, meskipun masih jauh dari target pemerintah yakni 75%. Angka berikut telah lebih tinggi dari tahun 2017 yang cuma menyentuh angka 49%.

Fintech diharapkan bisa mendorong peningkatan inklusi keuangan di Indonesia, khususnya untuk UMKM. UMKM mempunyai kontribusi PDB sebesar 60% kepada negara. Namun, cuma 20% UMKM yang bisa terhubung fasilitas keuangan formal. Dari 59 juta UMKM, cuma 12% yang mempunyai akses pada pinjaman. Maka dari itu, OJK mendorong perusahaan fintech lending untuk terhubung akses pinjaman seluas-luasnya kepada para pelaku UMKM di Indonesia.

 

Bagaimana Iklim Bisnis di Indonesia?

Pada tahun 2018, hasil survei OBG (Oxford Business Group) memperlihatkan bahwa iklim bisnis di Indonesia mengalami peningkatan. Sebanyak 64% responden menyebutkan bahwa berbisnis di Indonesia lebih gampang dibandingkan dengan 2 tahun yang selanjutnya (2016).

Selain itu, sebanyak 76% responden memberi nilai positif pada keadaan bisnis di Indonesia. Namun, angka tersebut menurun dari survei yang sama pada Mei 2017 di mana responden yang memberi nilai positif mencapai 92%.

Meskipun begitu, hasil survei OBG juga memperlihatkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-72 dalam Indeks Kemudahan Berbisnis berasal dari Bank Dunia pada tahun 2017. Peringkat itu meningkat dari tahun 2014 di mana Indonesia cuma menduduki peringkat ke-140.

 

OBG Meneliti Iklim Bisnis di Indonesia

Kabar baiknya, OBG telah bekerja sama dengan beraneka institusi negeri dan swasta untuk melakukan penelitian iklim bisnis di Indonesia. Penelitian tersebut akan dituangkan dalam The Report: Indonesia 2020.

OBG akan meneliti di bidang industri, sesuai dengan program advanced manufacturing yang direncanakan oleh Indonesia selama 5 tahun yang akan datang. OBG dapat melihat peluang bisnis dan investasi yang belum dimanfaatkan seperti industri tekstil dan makanan serta menyediakan info bisnis Indonesia kepada investor-investor global. Tujuannya untuk menambah profil bisnis Indonesia di mata investor asing.

RSS
Follow by Email