Risiko Investasi yang Perlu Diketahui

Risiko bisa diartikan sebagai kenyataan yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan sebelumnya. Setiap jenis investasi, pastinya memiliki risiko termasuk juga jika kamu memilih bunga deposito sebagai investasi.

Walau ada istilah high risk, high return atau semakin tinggi risiko, berarti semakin tinggi yang bisa didapatkan. Namun, yang perlu dipahami adalah ada risiko dalam investasi yang tidak dipisahkan. Kamu harus tahu risiko apa saja untuk kemudian dicari tentang solusinya.

 

Butuh sumber uang cepat dan mudah ? ayo coba disini ” idn live

Berikut adalah 7 macam risiko yang pasti ada di dalam dunia investasi:

Risiko Suku Bunga
risiko-investasi-suku-bunga-sukuk
Risiko suku bunga adalah risiko yang timbul karena nilai relatif aktiva berbunga, seperti pinjaman atau obligasi, akan memburuk karena peningkatan suku bunga. Risiko ini bisa diartikan sebagai risiko yang diakibatkan adanya perubahan suku bunga yang ada di pasaran sehingga akan mempengaruhi pendapatan investasi.

Secara umum, jika suku bunga meningkat, harga obligasi berbunga tetap akan turun, demikian juga sebaliknya. Risiko suku bunga umumnya diukur dengan jangka waktu obligasi, teknik paling tua yang sekarang digunakan untuk mengelola risiko suku bunga.

 

 

Contoh, suku bunga obligasi adakah 8-10% pada umumnya, namun kemudian pemerintah mengeluarkan Sukuk Ritel yang memiliki suku bunga hingga 12%. Dengan begitu, pastinya investor lebih suka dengan Sukuk Ritel ini.

Risiko Pasar
risiko-investasi-pasar-market-risk
Risko pasar ini adalah risiko fluktuasi atau naik turunnya Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang disebabkan oleh perubahan sentimen pasar keuangan (seperti saham dan obligasi) yang sering disebut juga dengan risiko sistematik (systematic risk), artinya risiko ini tidak bisa dihindari dan pasti akan selalu dialami oleh investor.

Hal ini bahkan bisa membuat investor mendapati capital loss. Perubahan ini bisa dikarenakan beberapa hal seperti adanya resesi ekonomi, isu, kerusuhan, spekulasi termasuk juga perubahan politik.

 

Contoh, isu kesehatan seorang presiden kemudian memberikan fluktuasi nilai dari rupiah terhadap dolar yang kemudian naik.

Anda tidak perlu panik dan langsung mencairkan dana investasi saat menghadapi fluktuasi pasar. Sebab, penurunan atau peningkatan aset seperti ini tidak terjadi secara terus-menerus.

Risiko Inflasi
risiko-investasi-inflasi-uang
Risiko inflasi, juga disebut risiko daya beli, adalah peluang bahwa arus kas dari investasi tidak akan bernilai sebanyak di masa depan karena perubahan daya beli karena inflasi.

Risiko ini memiliki potensi yang merugikan daya beli masyarakat terhadap investasi dikarenakan adanya kenaikan rata-rata dari harga konsumsi.

Risiko inflasi adalah risiko yang diambil oleh investor saat memegang uang tunai atau berinvestasi dalam aset yang tidak terkait dengan inflasi. Risikonya adalah bahwa nilai tunai akan berkurang oleh inflasi.

Sebagai contoh, jika seorang investor memegang 40% dari portofolio tunai Rp10.000.000 dan inflasi berjalan pada 5%, nilai tunai portofolio akan kehilangan Rp2.000.000 per tahun (Rp10 juta x 0,4 x 0,05) karena inflasi.

Risiko Likuiditas
Mengenal 4 Mata Uang Paling Berpengaruh Di Dunia – Dollar
Risiko likuiditas adalah risiko yang muncul akibat kesulitan menyediakan uang tunai dalam jangka waktu tertentu.

Misalnya: jika suatu pihak tidak dapat membayar kewajibannya yang jatuh tempo secara tunai. Meskipun pihak tersebut memiliki aset yang cukup bernilai untuk melunasi kewajibannya, tetapi ketika aset tersebut tidak bisa dikonversikan segera menjadi uang tunai, maka Aset tersebut dikatakan tidak likuid.

Hal ini bisa terjadi jika pihak pengutang tidak dapat menjual hartanya karena tidak adanya pihak lain di pasar yang berminat membelinya.

 

 

Hal ini berbeda dengan penurunan drastis harga aktiva, karena pada kasus penurunan harga, pasar berpendapat bahwa aktiva tersebut tak bernilai. Tidak adanya pihak yang berminat menukar (membeli) aktiva kemungkinan hanya disebabkan karena kesulitan mempertemukan kedua belah pihak.

Karenanya, risiko likuiditas biasanya lebih besar kemungkinan terjadi pada pasar yang baru tumbuh atau bervolume kecil.

Risiko jenis ini memiliki kaitan dengan percepatan dari sekuritas yang diterbitkan oleh pihak perusahaan yang bisa diperdagangkan di ranah pasar sekunder.

RSS
Follow by Email