komoditas daging sapi

Tren Produksi Daging Sapi Indonesia Menurun

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki konsumsi daging sapi paling tinggi. Ini telah dibuktikan pada tahun 2020 kemarin, konsumsi akan daging ini mencapai 2,01 kg per orangnya. Namun sayangnya, tingginya permintaan sapi pedaging tidak sebanding dengan produksinya di Indonesia. Lantas, apakah yang menyebabkan tren produksi sapi pedaging setiap tahunnya di Indonesia mengalami penurunan?

1. Harga pakan sapi mengalami peningkatan

Harga pakan sapi potong yang cendrung terus meningkat setiap saat menjadi salah satu penyebab mengapa produksi akan daging sapi mengalami penurunan. Peningkatan pakan sapi pedaging kembali mengalami peningkatan pada tahun kemarin. Tepatnya pada bulan Agustus tahun 2020.

Karena meningkatnya harga pakan sapi ini, secara otomatis para produsen sapi potong memiliki pemikiran untuk mengurangi produksinya. Takut akan kerugian merupakan alasan terkuat yang sering mereka lontarkan.

2. Harga sapi yang terus meningkat

Selain karena harga pakan yang terus meningkat, peningkatan akan harga sapi potong yang tak pernah turun setiap saat menyebabkan popularitas produksi sapi menjadi turun. Kenapa harga sapi yang meningkat menyebabkan produksi sapi menjadi turun?

Tentu pertanyaan tersebut sering terdengar di tengah-tengah masyarkat. Produksi sapi pedaging yang cendrung turun karena harga sapi yang naik ini terjadi karena, para peternak atau produsen sapi potong akan lebih cenderung untuk menjual sapi-sapinya yang produktif ketimbang memeliharanya kembali. Secara otomatis, apabila sapi yang produktif telah terjual habis, maka tidak akan ada lagi penerus sapi potong berkualitas dikalangan produsen sapi.

3. Adanya impor sapi potong dari negara tetangga

Sering sekali terdengar keluhan dari para peternak daging sapi yang mengatakan bahwa sapi lokal atau hasil produksi di Indonesia tidak bisa bersaing di pasaran ketika ada sapi potong impor yang masuk ke dalam negeri. Para konsumen akan lebih mementingkan untuk membeli sapi pedaging impor ketimbang sapi potong yang merupakan hasil dari dalam negeri.

Beberapa alasan yang sering terdengar dari konsumen seperti, sapi potong impor memiliki kualitas yang lebih baik ketimbang sapi pedaging dalam negeri. Selain itu, para konsumen sering mengatakan bahwa sapi potong impor cendrung memiliki harga yang lebih murah padahal kualitas dagingnya bagus ketimbang sapi pedaging hasil produksi dalam negeri. Dengan berbagai alasan tersebut, para produsen sapi potong di Indonesia akan cendrung mengurangi produksinya untuk menghindari kerugian yang tinggi.

4. Sumber daya manusia yang rendah

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara berkembang yang ada di dunia.  Ini juga dibarengi dengan kualitas sumber daya manusia di berbagai sektor yang masih berkembang, salah satunya pada sektor industri sapi potong. Jika dibandingkan dengan negara-negara yang sudah maju, produksi sapinya jauh lebih modern ketimbang di negara Indonesia. ini juga berpengaruh besar dengan jumlah hasil panen sapi potong dari hasil produksinya.

Maka dari itu, jika ingin meningkatkan tren produksi daging sapi di Indonesia, perbaikan atau pelatihan akan sumber daya manusia sangat dibutuhkan. Semakin maju atau semakin baik sumber daya manusia yang kita miliki, maka secara otomatis akan membawa keuntungan tersendiri bagi para produsen sapi pedaging tanah air.

5. Dukungan pemerintah yang masih kurang

Kendatipun di negara Indonesia ini dukungan pemerintah terhadap para tani peternakan sapi mengalami peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, tapi ada beberapa produsen yang belum mendapatkan perhatian. Perhatian atau dukungan yang dimaksud di sini seperti pemberian support akan biaya, alat-alat produksi, ijin lahan, dan yang lainnya.

Sering sekali para produsen sapi potong yang kecil atau pemula, tidak terjamah dari perhatian pemerintah di atas. Jika perhatian ini diberikan rata kepada seluruh produsen sapi potong di Indonesia, tentunya kualitas dan kuantitas produksi daging sapi tanah air akan mengalami peningkatan pula.

6. Ijin produksi yang susah

Kecendrungan masalah yang sering dialami oleh produsen sapi potong pemula adalah ijin usaha yang sangat sulit dan berbelit dari pemerintah. Kecendrungan ini mengakibatkan para palaku usaha sapi potong untuk melakukan produksi sekala kecil agar tidak perlu mengurus ijin atau bahkan mengurungkan niatnya menjadi produsen.

Tidak hanya sampai di sana saja, ketika pemerintah memberikan kelonggaran ijin, terkadang lingkungan setempat tidak memberikan ijin. Alasan yang sering terdengar salah satunya, limbah produksi sapi potong yang dikhawatirkan merusak kenyamanan penduduk sekitar.

7. Statistika penurunan produksi sapi potong

Tidak bisa dipungkiri lagi, tren penurunan produksi sapi potong di Indonesia terjadi setiap tahunnya. Penyebabnya sudah tidak lain dari beberapa alasan di atas. Menurut hasil surve dari Badan Pusat Statistika (BPS) dari tahun 2016 hingga tahun 2019, tercatat produksi sapi terus mengalami penurunan yang sangat signifikan.

Pada tahun 2016 jumlah produksi sapi potong sebanyak 518.484,03 ton, kemudian tahun 2017 produksi sapi potong berada pada angka 486.319,65 ton. Tahun 2018, produksi sapi potong mengalami peningkatan lebih sedikit yaitu pada kisaran angka 497.971,70 ton, dan tahun 2019 kembali mengalami penurunan yang mana jumlah produksi sapi potong berada pada kisaran angka 490.420,77 ton.

Demikianlah penyebab tren daging sapi di Indonesia yang terus mengalami penurunan dan data statistikanya. Langkah terpenting untuk mengatasi permasalah ini adalah dengan menyelesaikan satu persatu dari alasan penurunan produksi sapi potong di atas.

RSS
Follow by Email